Kamis, 26 November 2020

Belajar dari Beato Carlo Acutis, Menjadi Kudus di Usia Muda

Carlo Acutis adalah seorang remaja muda yang belakangan ini menjadi topik paling hangat dan ramai diperbincangkan di banyak media sosial Katolik serta berbagai kalangan, mulai dari kaum religius hingga awam.

Pasti, sahabat muda tidak ketinggalan informasi terbarunya dong, karena sudah tersebar di berbagai website resmi gereja katolik dan media sosial lainnya, bahkan Misa Beatifikasi Carlo Acutis menjadi “Beato” juga ditayangkan di Channel Youtube.

Seorang Remaja Katolik

Carlo Acutis adalah seorang remaja Katolik yang lahir pada 3 Mei 1991 di London, Inggris. Saat ia berusia sekitar 5 tahun, Andrea Acutis (Mama) dan Antonia Salzano (Papa) memutuskan untuk pindah ke Milan, Italia.

Di usia remaja, dia didiagnosis menderita penyakit leukimia. Luar biasanya, dia justru mempersembahkan semua penderitaan sakitnya itu untuk Tuhan, Paus Benediktus XVI, dan Gereja.

Sama halnya dengan remaja laki-laki pada umumnya, Carlo Acutis begitu suka sepakbola dan bermain video game. Tidak hanya itu, penyuka dunia programming ini menggunakan keahliannya untuk membangun situs yang memuat katalog mukjizat Ekaristi di seluruh dunia.

Dalam websitenya, ia mengatakan, ”Semakin kita sering menerima Ekaristi, semakin kita menyerupai Yesus, sehingga di Bumi ini kita akan merasakan surga.”

Tahun 2006, tepatnya pada 12 Oktober, Carlo wafat dan dimakamkan di Asisi atas permintaannya, karena cintanya kepada Santo Fransiskus Asisi.(teruskan baca narasi menarik berikut di bawah ini...👮👇 )
Tahun 2020, tepatnya pada 10 Oktober sungguh menjadi sukacita besar umat katolik seluruh dunia, khususnya bagi kaum muda di mana seorang remaja bernama Carlo Acutis dibeatifikasi di Asisi, Italia.

Dalam sejarah Gereja, pertama kalinya pada abad ke-20 atau zaman milenial, ada Beato termuda “Carlo Acutis” yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus sebagai “Pelindung Internet.”

Carlo Acutis juga yang mempopulerkan istilah “Ekaristi adalah Jalan tol menuju ke surga.”

Dokumentasikan Mukjizat

Banyak sekali keistimewaan dan keteladanan suci dalam diri Carlo Acutis. Di usia mudanya, dia meminta orangtuanya untuk membawanya berziarah ke tempat-tempat para kudus dan ke situs-situs mukjizat Ekaristi.

Dia juga memiliki cinta khusus kepada Tuhan dan Bunda Maria, lewat doa Rosario serta berdevosi. Doa memiliki waktu hening/adorasi, mengaku dosa setiap minggu, rajin mengikuti Ekaristi setiap hari. Bahkan kekudusan dan kesucian hidupnya dapat membawa pertobatan mendalam bagi Ibunya, yang sebelumnya kurang terlalu taat, menjadi rajin mengikuti Ekaristi.

Tidak hanya itu, kecintaanya dan kepeduliannya pada sesama membuatnya rela memakai tabungannya untuk menolong orang miskin. Bahkan, dia juga dikenal suka membela anak-anak di sekolahan yang di-bully, khususnya anak – anak disabilitas.

Dan, ketika ada orangtua dari temannya akan bercerai, dia justru membawa temannya itu masuk ke dalam keluarganya.

Hal yang menajubkan sekaligus membuatnya jadi Beato adalah kesaksian mukjizat penyembuhan seorang anak kecil di Brazil. Anak tersebut sembuh dari penyakit kanker pankreas berkat doa perantaraan melalui Carlo Acutis.

Refleksi untuk Semua

Carlo Acutis hanya hidup selama 15 tahun saja. Rentang waktu hidup Carlo begitu singkat bukan? Namun, Carlo Acutis mampu mengisi waktu hidupnya yang singkat dengan berbagai hal yang positif, bermakna serta berbuah yang tidak hanya dirasakan oleh keluarganya saja, melainkan sesamanya.

Lalu, Bagaimana dengan kita? Aku dan kamu, orang-orang muda?

Sebagai orang muda, rentang usia hidupku lebih dari Carlo, tapi aku menyadari bahwa dalam hidupku masih banyak yang perlu diperbaiki, termasuk membatasi kesenangan pribadi lalu mengutamakan hidup untuk Tuhan.

Terkadang dalam hidup ini, banyak orang muda terlelap bahkan sampai terlena oleh berbagai kesibukan dan kesenangan pribadi sampai kita menomorduakan Tuhan.

Tak jarang, sebagai orang muda, kita sulit sekali membatasi kesenangan pribadi dan belajar untuk mengutamakan Tuhan dalam keseharian rutinitas hidup.

Aku pun pernah berada di situasi, di mana kesibukan rutinitas, bahkan hidup dalam dunia kesenanganku sendiri, seperti menonton film hingga lupa waktu.

Itu sampai pernah membuatku bangun kesiangan hingga menjadi alasan tidak pergi ke gereja untuk merayakan ekaristi. Selain itu juga lupa berdoa, bahkan malas membaca kitab suci atau buku – buku rohani.

Tidak heran, ketika itu aku terjebak dalam kebosanan dan kejenuhan rutinitas hidup, rasanya hati ini pun seperti tanaman kering, lalu menjadi layu karena tidak adanya keseimbangan antara kesenangan pribadi dan hidup rohani.

Jadilah Pembawa Berkat

Carlo Acutis walaupun dia seorang remaja yang usianya masih muda, tapi hidupnya sungguh membawa berkat.

Hingga saat ini, Apakah hidup kita semua sudah menjadi berkat? Kita orang muda harusnya bisa menjadi pembawa dan penyalur berkat Tuhan baik itu di tengah keluarga, lingkungan pergaulan, maupun komunitas.

Berbagai cara bisa kita lakukan untuk membagi berkat. Intinya, lakukanlah seperti teladan Carlo Acutis terhadap keluarga dan sesamanya.

Tidak mudah memang menjadi pembawa berkat. Pasti banyak rintangan dan godaan. Tapi, percayalah dan selalu mohon doa perantaraan Beato “Carlo Acutis” agar memampukan kita sebagai orang muda untuk mengupayakan sesuatu yang lebih agar semakin banyak orang yang merasakan berkat Tuhan lewat apa yang kita perbuat.

Beato “Carlo Acutis” ditetapkan sebagai “Pelindung Internet.” Gelar yang sungguh istimewa dan membanggakan pasti untuk seorang remaja muda.

Bagaimana tidak? Biasanya orang muda, termasuk aku sering menggunakan internet untuk browsing game, gosip ter-update, atau bahkan film – film terbaru.

Berbanding 180 derajat dengan Carlo Acutis yang justru menggunakan internet untuk sesuatu hal positif, bermakna dengan mewartakan mujizat ekaristi di seluruh dunia melalui website-nya.

Tidak hanya itu, lewat penderitaan sakit yang dialaminya, Carlo Acutis juga mengajak kita semua, terutama untuk kaum milenial agar berani mempersembahkan apapun yang kita miliki dan rasakan untuk Tuhan, Gereja, serta sesama agar nama Tuhan semakin dimuliakan.

Nah sahabat muda, jangan khawatir dan takut untuk bisa menjadi kudus dan suci dalam usia muda. Itu bukan sekadar mimpi, melainkan sudah tergenapi dalam diri Beato “Carlo Acutis”. Intinya, jalan menjadi kudus dan suci itu bukan sesuatu yang mustahil untuk diperjuangkan dan dicapai bersama Allah.

Carlo Acutis bukan seorang yang berdoa dan berkaya dalam sebuah biara, namun hanya seorang remaja muda seperti pada umumnya yang dipilih Allah untuk menyatakan rencana-Nya pada kita semua.

Yolanda Aprilia adalah kontributor katolikana di Jember
Source : https://www.katolikana.com/2020/10/16/belajar-dari-beato-carlo-acutis-menjadi-kudus-di-usia-muda/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar